ahmadnursanto

Rabu, 13 Januari 2016

UNTUKMU YANG DIMABUK ASMARA




Untuk kalian muda mudi yang tenggelam di laut asmara
Yang terbujuk rayu berbalut suka bernama cinta
Yang waktunya tercurah untuk masalah hati dan rasa
Yang mendamba pasangan penuh kasih dan sayang
Yang tiada harinya tanpa menyebut nama kekasih, kekasih palsunya
Yang menggebu dalam gejolak jiwa
Yang rela berkorban apapun demi kata pujaan cinta
Yang berjanji setia sehidup semati bersama
Yang siap melepas prinsip  dan melanggar norma demi hidup berdua
Yang karena dimabuk cinta tak lagi mendengar nasehat orang tua
Yang tak lagi peduli baik buruk halal haram benar salah
Yang demi cinta sampai harus menggadaikan agama
Yang rela menukar kasih sayang akhirat demi cinta semu di dunia
Yang….. yang…..yang semua karena cinta

Aku katakan pada kalian,

Cinta yang kalian rasakan, abadi hidup berdua yang kalian impikan,
Susah bahagia bersama yang dicitakan, di dunia sampai akhirat sana,
Yang mudah berjanji sepakat demi nama Alloh Ta’ala tak terpisah ruang dan masa,
Siap menganggung beban seberapa beratnya,
Demi cinta mengorbankan segalanya,

Semua rasa akan sirna.
Tak ada lagi cinta saat itu,
Tak ada lagi kesetiaan yang saat itu pernah dijanjikan,

Alloh ta’ala berfirman dala quran surat Abasa ayat 33 – 37:
#sŒÎ*sù ÏNuä!%y` èp¨z!$¢Á9$# ÇÌÌÈ   tPöqtƒ Ïÿtƒ âäöpRùQ$# ô`ÏB ÏmÅzr& ÇÌÍÈ   ¾ÏmÏiBé&ur ÏmÎ/r&ur ÇÌÎÈ   ¾ÏmÏFt7Ås»|¹ur ÏmŠÏ^t/ur ÇÌÏÈ   Èe@ä3Ï9 <͐öD$# öNåk÷]ÏiB 7Í´tBöqtƒ ×bù'x© ÏmŠÏZøóムÇÌÐÈ  
33. dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),
34. pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,
35. dari ibu dan bapaknya,
36. dari istri dan anak-anaknya.
37. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.

SETIAP ORANG akan lari
Sibuk mencari keselamatan diri
Ia akan lari dari saudara, dari ibu dan ayahnya, dari istri dan anaknya


Sungguh elok kalimat Buya Hamka dalam tafsirnya:
Bagaimana orang akan mengingat anaknya dan isterinya, ayahnya atau ibunya, saudara kandung atau tirinya, kalau dia sendiri di waktu itu sedang terlibat dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya dengan berdusta ? dan saudara, ayah, ibu, dan isteri dan anak-anak itu pun terlibat pula dalam sial mereka sendiri-sendiri.

Orang lainkah yang akan terkenang, padahal masalah yang dihadapi demikian beratnya dan keputusan belum jelas ?

Maka,
Di mana kekasihmu waktu itu ?
Bagaimana dengan dirimu saat itu?
Cinta yang dahulu dibanggakan, di manakah?
Bahkan aku dan kamu, kita akan saling mengkhianati janji cinta

Berkhianat ?
Iya, tidak hanya tak saling peduli bahkan kita akan saling lari menyelamatkan diri sendiri tanpa teringat dengan saudara, ibu, ayah, isteri juga anak yang selama di dunia setia menemani.

Maka,
Sadarlah dari lamunan asmara dan cinta
Jangan hidup dan mati hanya untuk cinta kecuali cinta pada Alloh Ta’ala dan carilah mahabahNya melalui ketaatan pada ajaran Rasul Muhammad shalallohu alaihi wassalam.

##############

Untukmu yang sudah berkasih halal
Yang sudah berikrar kepada Alloh untuk beribadah bersama
Yang berjanji setia di depan wali dan penghulu
Berbahagialah atas cinta yang suci
Cinta yang penuh ridho Ilahi
Salinglah berbagi semangat dalam menjalani hidup di jalur taqwa.

Untukmu para lelaki,
Jangan lemah dalam membina keluarga di jalan iman dan ibadah
Istrimu juga anakmu adalah tanggung jawabmu yang dengannya ada perhitungan amalmu

Untuk para suami,
Jangan pernah katakan pada istrimu untuk selalu bersama dan menjada di keadaan apapun juga
Jangan pernah membuai istri dengan jaminan perlindunganmu, yang menjadikanmu pelindung juga benteng bagi keluargamu SELAMANYA
Itu adalah KEBODOHAN dan KESOMBONGAN pada Alloh Ta’ala.

Tapi katakanlah dengan lembut di depan isteri dan anak-anakmu, di kala engkau memberi nasehat pada mereka dengan kasih sayang. Katakanlah:
“Wahai isteriku terkasih, aku tahu engkau sangat menyayangiku, dan engkau pun mengerti betapa tulus sayangku padamu. Kita percaya bahwa kita adalah dua insan yang saling mencinta. Namun Aku tidak seperti lelaki lain yang berjanji akan setia menjaga kekasihnya sehidup semati. Aku tidak berani bersumpah janji sehidup semati bersama kapanpun di manapun. dunia yang kita sedang hidup inilah tempat kita bersama tak terpisah kecuali kematian.”
“Istriku tercinta, ketahuilah suatu saat nanti aku akan meninggalkanmu. Pasti saat itu aku akan lari darimu. Aku meninggalkanmu sendiri. bahkan tidak hanya engkau, akupun akan lari dari saudaraku, anak-anak ku bahkan kedua orang tuaku. Engkaupun juga akan lari meninggalkan orang yang terkasih di duniamu.”
“Saat itu aku sibuk dengan urusanku sendiri. aku sibuk mencari perlindungan diriku. Aku tinggalkan yang kucinta saat ini demi keselamatanku sendiri. aku tak peduli padamu walau bagaimanapun keadaanmu saat itu. Aku hanya peduli pada diriku, nasibku, masa depanku sendiri. waktu itu aku sibuk untuk mencari keselamatan di hari peradilan Tuhanku.”
“Wahai belahan jiwaku, engkaupun akan sibuk dengan urusanmu. Maka carilah keselamatanmu sendiri dengan bekal iman dan amal ibadahmu. Di dunia kita bersama, di saat itu kita tak lagi sama peduli. Sebab itu, marilah kita bersama mengabdikan hidup ini dengan beribadah bersama, mencari ilmu bersama dan beramal shali h bersama untuk kehidupan kita di hari peradilan itu.”
“Untuk anak-anakku tersayang, keadaanmu pun sama dengan ibundamu. Aku akan tinggalkan kalian dan kalian akan saling menininggalkan aku. Jagalah diri kalian sendiri dengan iman dan beramal shaleh. Hiduplah bersama masyarakat dengan baik tetapi jangan lupa dengan diri kalian bahwa di hari perhirungan nanti kalian akan sendiri dan menjadi diri sendiri. jaga diri kalian dan mintalah petunjuk dan perlindungan hanya pada Alloh Ta’ala semata. Jangan pernah gantungkan dirimu dan nasibmu pada makhluk yang lemah dan tak berdaya sama sekali.”
“kalian isteri dan anak-anakku, kalian adalah pelita dalam hidupku di dunia dan semoga seperti itu pula di akhirat nanti. Satu pintaku pada kalian. Seandainya nanti aku harus lama di neraka dahulu karena dosa dan salahku, ketika itu aku sudah dilupakan oleh semua makhluk (na’udzubillahi min dzalika), ingatlah akan diriku. Mintakanlah keselamatan pada Alloh Ta’ala untukku agar aku segera dikeluarkan dari panas neraka menuju sejuk damainya surga. Mintalah syafaat pada Alloh Ta’ala untuk menolong diriku sehingga kita bisa berkumpul seperti keadaan kita didunia ini, bahagia bersama…selamanya”



Sendang, 14 Januari 2016




Senin, 30 November 2015

Doa meminta Jodoh dan Anak Keturunan yang Baik


Mendapat pasangan hidup yang shalih/shalihah ditambah kehadiran anak keturunan yang shalih/shalihah pula adalah karunia yang agung tiada ternilai. Setiap pemuda selalu mendamba keluarga yang sakinah penuh cinta dan kasih sayang serta dalam naungan rahmat Ilahi. Seorang yang sehat jiwa dan akalnya senantiasa tergerak untuk mencari pasangan terbaik sebagai teman hidup yang akan melahirkan anak keturunan yang terbaik. 

Berikut ini beberapa doa terbaik yang diabadikan Al quran tentang hamba yang meminta pasangan hidup dan generasi terbaik dalam hidup terutama doa para Nabi. Tidak mengapa mencontoh mereka dalam berdoa, malah termasuk cara yang baik dalam mengikuti para Nabi dalam berdoa. Tapi berdoa saja tidak cukup, harus diimbangi dengan usaha untuk menjadi pribadi yang terbaik demi mendapat pasangan dan anak turun yang terbaik pula.

Doa yang dipanjatkan ‘Ibadurrahman yakni hamba-hamba Alloh yang mendapat kemulian. Di antara sifatnya adalah meminta pasangan dan anak turun yang terbaik yakni menjadi penyenang hati dan menjadi imam dalam ketaqwaan. Doa ini termaktub dalam surat Al Furqon (25) ayat 74. 


رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
"Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
(QS. Al Furqon (25) ayat 74), ket: doa yang dipanjatkan oleh hamba Alloh yang mendapat kemuliaan
2. Doa Nabi Ibrahim dan Zakaria dalam meminta anak yang shalih. Meminta anak yang shalih bagi pemuda yang belum menikah berarti juga meminta pasangan hidup yang shalihah. Sebab, faktor utama dalam mencetak generasi shalih/shalihah adalah keadaan kedua orang tua. Sehingga meminta keturunan yang baik “satu paket” dengan meminta pasangan hidup yang baik.
رَبِّ هَبْ لِى مِنَ الصَّالِحِيْنَ
 “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.” (QS Ash Shofat (37) ayat 100), Ket: Doa Nabi Ibrahim Alaihis Salam
رَبِّ لَاتَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ

"Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling Baik.” (QS. Al Anbiya (21) ayat 89, Ket: Doa Nabi Zakaria Alaihis Salam
رَبِّ هَبْ لِى مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ

"Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". (QS Ali Imran (3) ayat 38), Ket: Doa Nabi Zakaria Alaihis Salam


Berdoa merupakan salah satu cara dalam mereailisasikan impian dan angan angan. Bahkan termasuk perkara agung dalam agama, karena “doa adalah ibadah” sebagaimana sabda Nabi Shalallohu Alaihi wassalam yang diriwayatkan ashabus sunan secara shahih.
Karena itu, perbanyaklah doa-doa kita dalam mewujudkan impian dan harapan kita. Disamping usaha yang keras dan sungguh-sungguh, doa adalah faktor yang menentukan keberhasilan kita.
Semoga Alloh Subhanahu Wata’ala selalu meridhoi langkah kita dan mengijabahi doa-doa kita…
Amin ya Robbal alamin


@Sendang 01/12/15 







Minggu, 29 November 2015

Makna Ujian Akhir Semester dalam membentuk Karakter

Ujian akhir semester adalah bagian dr tahap evaluasi yg merupakan salah satu komponen pendidikan.
Karenanya tidak boleh ada rasa tertekan, terbully, terhimpit susah dalam suasana UAS, apalagi sampai,digunakan untuk ajang menjatuhkan psikis siswa.
Sebaliknya pekan UAS hrs berjalan dlm suasana nyaman, tertib dan kondusif sbg tempat pembelajaran yg unik krn tidak mungkin diciptakan setiap hari. Suasana pekan UAS hanya datang minimal 3 bulan sekali, dan sangat disayangkan bila guru tak dpat gunakan itu sbg pendidikan berkarakter.
Banyak karakter yg bisa ditanamkan melalui pekan UAS, diantaranya kemandirian, keuletan, disiplin, tertib, tekun, bekerja keras, jujur dan terutama dlm menanamkan ketaqwaan.
Mungkin sebagian bertanya apa korelasi UAS dengan taqwa ?
Jawabannya sederhana. Karakter2 positif yg bisa ditanamkan dan dikembangkan di atas adalah sebagian ciri org yg bertakwa. Orang yg bertakwa ditandai dengan melekatnya karakter positif dlm diri yang diwujudkan melalui kesungguhan beribadah (hubungan vertikal) dan bermasyarakat (hubungan horizontal).
Karena itu tepat sekali bila karakter utama yg dicanangkan pendidikan Indonesia adalah mnjdi pribadi yg taqwa. Sebetulnya satu kata "taqwa" itu sudah mewakili semua sifat positif yg ada, termasuk 18 karakter yg diterangkan program pendidikan. Taqwa adalah adalah sinar kemuliaan yg terpancar dr pribadi manusia karena tunduk dan patuhnya pd Tuhannya. Taqwa adalah melaksanakan perintah Tuhan dan tidak melanggar laranganNya.
Dalam konsep Islam, orang bertakwa tidak menyisakan sedikitpun ruang dlm dirinya untuk berbuat keburukan, yang berarti seluruh amaliahnya bernilai kebaikan/positif. Nabi Muhammad shalallohu alaihi wassalam bersabda dlm hadis hasan riwayat at Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad dan yg lainnya :"Bertaqwalah kepada Alloh di mana pun kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya akan menghapus keburukan itu....".
Artinya taqwa tidak mengenal kondisional. Semua keadaan harus dlm rangka ketakwaan. Kapanpun, di manapun, bagaimanapun dan dengan siapapun harus selalu dlm rangka ketakwaan. Walaupun manusia tempat khilaf dan dosa tetapi dia harus berusaha selalu bertakwa. Apabila dlm keadaan maksiat harus segera berhenti dan kembali pada Tuhannya (taubat) dan mengiringinya dengan amal kebaikan sebagai tebusan dosanya.
Karena taqwa tidak mengenal ruang dan waktu maka semua aktivitas pada dasarnya harus diarahkan menuju taqwa itu.
Jadi, guru harus sadar dan paham tujuan pendidikan dlm aspek taqwa ini sehingga seluruh aktivitas kelas terarah menuju ketaqwaan. Ruang kelas yg modern lengkap dg berbagai teknologi canggih tak berarti tanpa bisa mencetak siswa yang bertaqwa. Siswa yg pandai berbahasa, bersastra, trampil dalam akademik tidak berarti tanpa taqwa dihatinya.
Demikian pula dg guru. Secanggih apapun guru merancang rancana pembelajaran sekaligus sukses melaksanakannya itupun tetap gagal bila dirinya tidak memiliki ketaqwaan dan pembelajarannya tidak bernuansa taqwa serta tak mampu mengantarkan anak didik pada jalan ketaqwaan. Berbagai rancangan kurikulum dan pembenahan pendidikan tak berguna kecuali dapat difungsikan dlm membentuk insan taqwa. Apalagi bila sebaliknya malah membentuk pribadi yg hedonis, materialistis apalagi atheis maka jelas itu kurikulum yang gagal total. Kurikulum memang harus adaptif dan dinamis, selalu berubah dan berbenah sesuai tuntutan zaman tetapi tidak boleh lepas dari pembentukan pribadi taqwa itu...
Sekali lagi, semua harus tentang taqwa. Karena 17 karakter nasional dan boleh ditambah berapapun karakter lain tak berarti bila karakter pertama yakni "taqwa" gagal dibentuk.
Langkah taqwa adalah langkah yg bersumber pada keimanan, karena itu tidak dikatakan bertaqwa apabila perbuatannya tidak didasarkan pada keimanan kepada Tuhan sang pencipta. Bisa saja seseorang jujur dan rajin serta giat juga ulet ditambah tabah dan sabar dalam menjalani keseharian, seperti yg nyaring terdengar di beberapa tempat di Eropa yang memiliki tingkat kehidupan masyarakat yg baik. Di mana sebab kebaikan masyarakat di sana karena sifat positif yang mengakar kuat diantaranya kejujuran dan ketekunan. Namun bila tidak didasari iman maka tetap gagal dlm pandangan Agama karena banyak orang yg berkarakter positif bahkan nyaris sempurna tetapi karena kebiasaan dan demi eksistensi di dunia. Artinya dia sukses di banyak karakter positif tapi gagal di karakter utama "taqwa".
Inilah yg tidak boleh dilepaskan pendidikan kita. Ketaqwaan inilah yg harus jadi muara pendidikan yang tidak bisa diwujudkan kecuali bantuan karakter positif lainnya.
Dengan demikian, guru yang bijak harus mampu mengolah setiap suasana dan keadaan sekolah dalam rangka membentuk pribadi "taqwa". Termasuk pada tahap evaluasi siswa tidak bisa pisah dari tujuan tersebut.
Ciptakan suasana yg hangat, nyaman dan kondusif dalam pekan UAS dalam rangka menanamkan karakter positif,. Jangan jadikan pekan UAS ini sebagai ajang "pembantaian" karakter siswa. Beri dorongan dan motivasi untuk mengembangkan kemampuan pribadi dan mandiri. Gunakan indikator taqwa, mandiri, jujur, trkun, kerja keras, ulet, dan berbagai karakter positif lain sebagai indikator keberhasilan dalam mengikuti pekan UAS.
Semoga semua guru di negri ini selalu ditolong dan dilindungi Alloh ta'ala dalam menjalankan tugasnya.... Amiin ya robbal alamin
#SDIT at Taqwa 30/11/15

Kamis, 26 November 2015

CAMPUR RACUN

“Sampurasun” yang dipelesetkan menjadi “campur racun” terus menjadi perdebatan yang semakin memanas. Pernyataan Habib Rizieq tersebut dianggap memunculkan persepsi negatif terhadap tradisi masyarakat Sunda. Hingga saat ini tak kurang dari 16 ormas dan LSM yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sunda Menggugat (AMSM) melaporkan ketua FPI tersebut dalam ranah hukum Polda Jawa Barat.

Kontroversi tersebut bermula ketika tersebar potongan video Habib Rizieq sedang berceramah di Purwakarta 13 November 2015. Sebagian pihak langsung menunjukkan amarah dan langsung menghujani kritik tajam disertai hinaan. Kesantunan yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat nusantara (juga tentunya masyarakat Sunda) terlihat mulai memudar di tengah  modernitas masyarakat indonesia.

Bila dirunut lebih jauh, kita bisa memahami mengapa “sampurasun” menjadi “campur racun” yang langsung menjadi bomerang bagi Habib Rizieq. pernyataan “panas” tersebut sebetulnya hanya cuplikan akhir dari pernyataan yang panjang ketika mengulas tentang Syariat Islam dan adat budaya dalam masyarakat.

Hari ini umat memang menjadi sasaran empuk fitnah dan caci maki. Orang yang benci (tidak suka) dengan perkembangan penerapan syariat Islam (baik non muslim ataupun kalangan islam  yang “aneh) mulai gusar dan serampangan mencari kesalahan dari umat islam sebagai sasaran fitnah dan perpecahan. Artinya orang-orang yang tidak suka dengan Islam dalam praktis mulai berani menampakkan diri, tidak lagi lempar batu sembunyi tangan, bahkan terang terangan berkoar menimbulkan syubhat di depan media. Mereka yang mengaku muslim tetapi benci Islam sejatinya adalah munafiqun di tengah umat. Terlebih muncul gagasan baru di tengah umat untuk mereduksi penerapan Islam dari “kaffah” menjadi sebatas teoritis dan terbatas. Teoritis dalam artian Islam sebagai agama normatif yang memiliki nilai ajaran pokok yang berlaku bagi individu muslimyang dalam hal ini Islam dipandang sebagai ajaran teori yang bersifat keilmuan dan pengetahuan belaka sehingga bersifat terbatas. Ketika berbenturan dengan budaya lokal, maka Islam yang sejatinya bersifat teoriritis dan praktis harus merelakan sebagian ajaran praktisnya untuk disesuaikan dengan budaya lokal yang dalam beberapa hal malah bertentangan dengan nilai teoritis Islam. 

Lazim terdengar di telinga kita istilah “islam nusantara” yang kurang lebih membawa konsep tersebut. Secara istilah, kehadiran islam nusantara membawa perdebatan panjang mengingat Islam adalah satu agama “sempurna” yang dibawa Rasul Muhammad Shalallohu alaihi wassalam yang mana tanpa perlu dikotakkan menjadi merk islam “apa”. Tanpa melihat “isi”nya pun, term islam nusantara sebagai produk keislaman khas nusantara sudah patut menimbulkan kontroversi. Orang sudah dapat mengira islam yang nusantara akan menjadikan kebudayaan lokal atau sitilah lainnya kearifan lokal (local wisdom) sebagai acuan dalam menilai ajaran islam. Mana ajaran yang dipandang cocok maka akan dipakai dan mana yang dipandang tak seesuai dengan praktek budaya lokal maka perlu dikritisi. Pada akhirnya akan memunculkan sikap pro dan kontra yang cenderung memecah persatuan kaum muslim indonesia. Selain pasti akan ditolak para ulama, juga akan menjadi pertentangan sesama muslim karena tidak mungkin islam nusantara meng”cover”, mewadahi seluruh islam yang ada di indonesia berdasarkan ke khas an masing masing. islam nusantara yang selama ini didengungkan pun lebih berupa “islam jawa” yang mewadahi unsur kejawen (jawa kuno), hindu budha dan animisme (agama di jawa sebelumnya) dan agama Islam yang pastinya tidak akan mungkin mencampur ketiganya karena perbedaan yang banyak bertentangan. Pada gilirannya akan menimbulkan fanatisme kelompok yang dilarang oleh Islam.

Menyandingkan Islam dan budaya lokal adalah mungkin. Tetapi menyatukan ataupun meleburkan keduanya tidak mungkin sebab budaya adalah proses kreasi manusia yang tidak selalu sesuai dengan ajaran Islam. Budaya letaknya di bawah Agama. Percobaan untuk meracik Islam dan budaya menjadi satu ramuan tidak akan menghasilkan ramuan yang menyehatkan, sebaliknya justru bisa menjadi “racun” yang menghancurkan. Memang budaya tak selamanya bertentangan dengan Agama, namun tak seharusnya Agama dikemas dalam model budaya dimana unsur Agama harus rela dipreteli. Agama harus menjadi acuan dalam membentuk budaya. Agama harus menjadi semangat untuk memperbaiki budaya yang menyimpang.  Intinya, budaya harus “dikalahkan” ketika disandingkan dengan Agama. Budaya baru yang beragama harus menggantikan budaya lama yang belum sesuai agama, bukan sebaliknya.

Contoh sederhananya. Budaya jawa memakai “kemben” bagi wanita jawa, yakni berupa baju setinggi dada dengan bawahan jarit sepanjang kaki. Sedang Islam menghendaki wanita berbusana lengkap yang menutup seluruh tubuh kecualli wajah dan telapak tangan.

Dalam kasus sederhana seperti inipun, tidak mungkin dirumuskan satu kesepakatan antara budaya dan Agama dengan hak yang setara. Tidak mungkin menyuruh wanita nusantara memakai kerudung dengan baju setinggi dada dan bawah memakai rok panjang. Sangat mustahil meminta wanita nusantara untuk memakai “kemben” dengan legalitas Agama Islam, jelas ndak mungkin. Yang ada hanya satu penyelesaian: menyuruh wanita jawa memakai jilbab yang menutup seluruh aurat dengan spirit ketika memakai pakaian jawa. Artinya budaya harus tetap dikalahkan yang dalam hal ini tidak mungkin tercipta “Islam ……”. Islam ya satu yang dibawa Nabi Muhammad shalallohu alaihi wassalam.

Permasalahan yang seperti inilah yang pada akhirnya menimbulkan reaksi dan aksi pada da’I untuk “menyelamatkan” Islam di indonesia. Berbagai ceramah ditujukan untuk menguatkan semangat umat dalam menjalankan Ajaran Islam yang sesungguhnya melalui berbagai media yang akhirnya masyarakat muslim mulai “melek” terhadap ajaran islam yang sesungguhnya.

Inilah yang tidak diingini oleh mereka yang terlalu “bangga” dan “kolot” menja;ankan budaya lokal. Tidak rela jika umat islam cerdas beragama sehingga perlu untuk membantah sampai memfitnah para da’I yang mengajak pada Islam yang “kaffah”. Hingga akhirnya muncul “pengkotakan” terhadap da’I yang didukung media menjadi dai Arab dan dai Nusantara.

Sekarang yang berdakwah dengan materi dan metode Islam sunnah dijuluki “Wahabbi” dan dicap aliran keras , ekstrimis, fundamentalis (walaupun tiga istilah tersebut tak selalu bermakna negatif). Mereka dicap sebagai orang yang sok Arab dan anti nusantara. Mereka adalah virus yang harus disingkirkan dari indonesia dan tuduhan lainnya. Melalui media umat diajak untuk menentang dan memusuhi dakwah Islam yang Sunnah tersebut. Semoga Alloh menolong penyeru dakwah Islam Sunnah.

# Peristiwa ini layak menjadi perhatian kita semua. Sudah saatnya kita berdiri tegap untuk menyongsong era penuh fitnah akhir jaman. Sudah waktunya kita kritis dan memilih mana yang terbaik bagi kita. Fitnah-fitnah zaman yang seperti ini sudah disabdakan oleh Nabi Shalallohu alaihi wassalam dan hanya disuruh pada satu hal : “memegang erat ajaran Islam yang sesuai dengan Al Quran dan Sunnah Nabi”. Tidak ada jalan selamat kecuali satu itu. Tidak perlu menangis meratapi perubahan jaman, tetaplah tegap dan bangga memegang prinsip yang kita pilih.

Sendang sebelum jumatan 27/11/15

……. Bersambung………


Rabu, 25 November 2015

Belajar Hadapi Ujian Hidup Melalui Ujian Akhir Semester

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. فَيَاآيُّهَا الْحأضِرُوْنَ الْكِرَامِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah,

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Ilahi Ta’ala atas limpahan nikmat dan hidayah kepada kita sampai detik ini kita masih berada dalam iman dan islam, tergambar dari semangat untuk datang mengikuti sholat jumat berjamaah. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Nabi Muhammad shalallohu alaihi wassalam beserta keluarga, sahabat dan pengikut beliau sampai hari kiamat.
 Jamaah rahimakumullah,
Pekan ini adalah pekan terakhir kita mengikuti pelajaran di semester ganjil tahun ini. Senin depan kita sudah memasuki pekan ujian akhir semester ganjil. Tentu kita harus berusaha dengan giat agar meraih hasil yang maksimal.
Mau tidak mau kita harus melewati saat itu, sebab ia adalah syarat supaya kita bisa naik ke semester berikutnya. Maka sudah pasti tidak ada cara lain kecuali berusaha dan berdoa dengan maksimal dan melewatinya dengan optimis dan semangat.
Jamaah rahimakumullah.
Sejak awal masuk sekolah kita sudah dibiasakan untuk menghadapi ujian akhir semester ataupun ujian yang lain. Kita dipaksa untuk menghadapi dan melewati ujian dan mungkin dibuat pusing karenanya. Walaupun harus bersusah payah tapi kita tidak bisa menghindari saat ujian tersebut.
Jamaah yang dirahmati Alloh
Sesungguhnya hidup di dunia juga ujian. Alloh subhanahu wata’ala menjadikan hidup kita ini sebagai ujian untuk nanti dinilai di akhirat setelah kita meninggal dunia. oleh karena itu kita dilatih untuk terbiasa menghadapi ujian di sekolah sebagai persiapan kita menghadapi ujian kehidupan.
Ketika kita semangat dan berusaha mendapat hasil terbaik dalam ujian sekolah, begitu pula nanti kita harus menghadapi ujian dalam hidup. Ujian hidup kadang berupa cobaan.
Ujian itu pasti ada. Alloh telah berfirman dalam surat al baqoroh ayat 155:
  
 dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. "

Oleh karena itu jamaah rahimakumullah, kita harus terbiasa untuk menghadapi ujian dalam hidup. kita persiapkan sejak sekarang untuk mandiri dan berusaha keras melewati ujian. kita hadapi ujian semester yang hanya satu mingggu nanti dengan semangat, berusaha keras, berdoa dan tentunya mengerjakan sendiri. kitapun harus sabar dan tekun dalam belajar karena dibalik kesabaran dan ketekunan itu ada hasil yang penuh berkah.
Jamaah rahimakumullah,
Ujian semester hanya satu minggu sedang ujian hidup adalah selama kita hidup sampai datang kematian pada kita. Sebagaimana firman Alloh dalam surat al Mulk ayat 2
  
“yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”

Semoga dengan ujian semester nanti kita bisa belajar bagaimana menghadapi ujian-ujian dalam kehidupan kelak. Semoga Alloh selalu memberi hidayah dan menolong langkah kita semua… amin ya robbal alamin

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّه, الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا  مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. امابعد
فَيَاآيُّهَا الْحأضِرُوْنَ الْكِرَامِ .  اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
{إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ   .
. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ  مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدْيتَنا ، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمة ، إِنّكَ أنتَ الوَّهابُ  رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ وَالأَبْصَارِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعِالَمِيْنَ
أَقِيْمُوْاالصَّلاَةِ


# khutbah jumat siswa SDIT At Taqwa tanggal 27 November 2015